Kami memang merasa belum pantas untuk mencintai negeri ini seutuhnya.Kalau Jazz Goes to Campus punya tagline "Jazz the way it is"
Masih ada hal yang mengganjal yang ingin kami akui.
Kami memang masih suka mencerca aliran musik dangdut, salah satu aliran musik paling populer di kalangan masyarakat Indonesia.
Kami suka menghina dan tak menganggap dangdut sebagai salah satu hal yang eksis di negeri ini.
Kami tak tahu mengapa kami berlaku demikian.
Apakah mungkin karena dangdut lebih dekat dengan kaum marjinal?
Atau mungkin karena pendengar musik itu adalah kalangan bawah?
Dengan segala hal-hal hina yang melekat di atasnya?
Ah, siapakah Mukhsin Alatas? Camelia Malik?
Hanya nama-nama yang pernah kami dengar, tapi kami tak peduli dan tak akan mau peduli.
Kami baca di Wikipedia, dangdut merupakan transformasi dan gabungan dari musik Melayu dan campuran musik lain.
Kami juga tahu, aliran musik itu juga berkembang hingga ke Amerika.
Kami dengar, aliran musik itu selalu menyatukan masyarakat dari segala kalangan, dan kami pernah merasakan atmosfernya saat acara perkawinan saudara kami.
Tapi, mengapa kami kerap menghina dangdut?
Padahal, aliran musik itu tidak pernah menggubris kami.
Aliran musik itu dapat membuat masyarakat merasa senang, bahagia, dan seluruh penatnya hilang.
Tapi, mengapa kami tidak pernah peduli dengan itu?
Mari kita buat tagline sendiri untuk memajukan musik dangdut Indonesia dari keterpurukan,
"Indonesia, the way Dangdut is!"
0 Comments:
Poskan Komentar