17 Juli 2011

Tidak Ada Alay di Antara Kita

Niat untuk menulis sebuah tulisan sebenarnya sudah ada sejak beberapa saat yang lalu. Namun untuk menulis tulisan yang seperti ini baru benar-benar tercapai setelah beberapa lama saya tidak menulis. Kali ini, saya ingin menulis tentang fenomena diskriminasi terhadap (maaf) alay. Sebelumnya saya pernah membahas ini dalam sebuah artikel saya di website Indonesian Youth Conference dengan tema yang sama, yaitu fenomena alay (bisa dilihat di sini).

Sebelum saya bahas lebih dalam, pertama-tama saya ingin minta maaf apabila dalam pembahasannya terdapat beberapa pihak yang merasa tersinggung ataupun apabila ada kata-kata yang menyinggung hati anda-anda sekalian.

Beberapa saat yang lalu, teman saya, lebih tepatnya teman facebook saya which-I-don’t-know-him-well, mengupdate status facebooknya. Kurang lebih tentang kurang berkenannya ia terhadap kehadiran para alay ini di hidupnya. Saya tidak kenal dengan orang ini. Tapi entah mengapa hati saya merasa terpanggil untuk comment di status itu.

Entah mengapa terkadang saya suka merasa tidak terima jika ada yang merendahkan alay. Tidak, bukan karena saya merasa saya alay, atau teman-teman saya alay. Tapi saya merasa, rasanya tidak sopan untuk merendahkan orang lain yang (maaf) dianggap beda kasta.

Saya pernah belajar pada saat saya kelas XII kemarin. Teman-teman yang jurusan IPS pasti pernah belajar tentang stratifikasi sosial (dalam pelajaran Sosiologi) atau agar lebih mudah dimengerti di sini saya berikan sebutan stratifikasi tersebut sebagai ‘tingkatan sosial’. Dalam Sosiologi ini, stratifikasi sendiri artinya adalah adanya tingkatan-tingkatan dalam bermasyarakat yang didasarkan atas adanya sesuatu yang dihargai atau bernilai (yang ini berdasarkan pengertian saya). Maksudnya begini, dalam masyarakat itu pasti ada mereka-mereka yang menduduki kasta teratas, menengah, dan di bawah. Sedangkan jika pengertian ini dimasukkan dalam ruang lingkup pergaulan anak muda jaman sekarang, maka akan ada tiga tingkatan juga, yaitu mereka yang gaul, mereka yang biasa, dan mereka yang alay. Sehingga dapat ditarik kesimpulan di sini bahwa mereka yang alay tersebut adalah mereka yang miskin, hina, dan memang pantas untuk menduduki kasta terendah dalam sebuah masyarakat pergaulan. Entah apakah mereka yang menggunakan istilah alay ini sebetulnya tau apakah pengertian alay yang sebetulnya. Namun, di sini saya ingin menceritakan beberapa hal yang saya alami dan beberapa pendapat saya terhadap alay-alay yang anda maksud tersebut.

Saya bersekolah di sekolah yang (maaf) jarang terdapat alay atau mungkin tidak terdapat alay. Mengapa saya katakan demikian? Karena selama saya bersekolah di tempat itu, tidak ada anak laki-laki yang suka tawuran melawan STM atau SMK atau bahkan anak perempuan yang mEnUL!s s3p3rTy iN!. Lingkungan juga ternyata berpengaruh besar. Tidak ada tetangga saya yang suka tawuran dengan kampung sebelah atau ibu-ibu yang suka gebugin suaminya. Saya hanya melihat alay-alay tersebut di jalan, angkot, atau bahkan di televisi, facebook, dan social media lainnya. Hingga akhirnya pergaulan saya berubah. Saya tidak hanya bergaul dengan teman-teman sekolah saya yang mayoritas tidak alay, namun juga dengan orang-orang yang (maaf) mungkin anda anggap alay tersebut. Mungkin hampir semua orang bila mendengar nama komunitas the Jakmania atau Jakangel langsung berpikir bahwa komunitas itu diisi dengan kumpulan-kumpulan alay yang suka tawuran, nyanyi-nyanyi gak jelas, atau naik-naik ke atas bis. Saya mulai bergaul dengan beberapa orang dari mereka semenjak saya suka nonton Persija Jakarta di TV dan menjadi official fan page developer dari Bambang Pamungkas (striker tim nasional Indonesia dan Persija Jakarta). Mulai dari situ, pengalaman memberanikan saya untuk menyanggah setiap perkataan alay yang tidak enak mengenai mereka.

Di sekolah, beberapa teman laki-laki saya suka memanggil saya ‘Mayang Jakangel’ dan mereka tertawa setelahnya. Beberapa orang kagum pada saya karena saya kenal dengan mas Bepe, namun di sisi lain ada juga yang seakan-akan merendahkan saya karena saya adalah supporter dari tim Persija Jakarta tersebut. Apa yang salah? Saya pikir demikian. Padahal saya mendukung tim kebanggaan ibu kota Indonesia. Tapi mengapa harus dipandang sebelah mata? Apa karena teman-teman saya alay? Apa karena mereka pikir saya suka tawuran? Naik-naik ke atas angkot? Menulis dengan aksen gede-kecil? Lalu jika saya bilang iya, apa masalah anda? Apa ada yang salah dengan mereka? Memang ada apa dengan alay?

Semenjak itu, banyak friend request dari orang-orang dengan username absurd di facebook saya. Bukan hanya itu, followers saya di Twitter juga semakin banyak, dengan embel-embel nama aneh dalam username tentunya. Saya merasa nyaman dengan hal-hal baru yang lucu ini. Mereka tidak mengganggu saya, dan mereka tidak buruk seperti apa yang anda pikirkan. Beberapa teman dari Jakmania baik-baik, dan tidak ganas seperti ketika mereka tawuran (Ps: yang tawuran itu bukan Jakmania, tapi Jakmania liar dan bukan Jakmania, jadi tidak bisa dipertanggungjawabkan). Mereka tidak alay seperti yang anda pikirkan, hanya saja memang ruang lingkup pergaulannya berbeda. Ruang lingkup mereka lebih luas, sedangkan ruang lingkup pergaulan anda sempit. Pola pikir mereka luas dan kritis kok, tidak sesempit yang anda pikir. Bahkan mereka lebih kritis dan anarkis dari mahasiswa. Imajinasinya luar biasa dan berfantasi. Saya sangat salut dengan mereka, dan ternyata pemikiran saya tentang mereka yang dulu sama sekali salah.

Kemudian saya pikir-pikir lagi. Alay dan tidak alay itu sebenarnya sama. Hanya ada ‘style’ yang membatasi keduanya. Saya suka ketawa kalau melihat tingkah laku mereka kok… Tapi untuk apa dijelek-jelekkan? Semua orang di dunia ini sama derajatnya di mata Tuhan. Mengapa kita, sebagai manusia, harus menganggap bahwa kasta kita ini lebih tinggi daripada mereka? Kalau memang anda tidak suka pada alay, ya tidak usah berurusan dengan mereka lah. Bila diibaratkan, ini sama saja seperti bila anda disuruh makan kotoran manusia dan anda tidak mau, tapi anda masih memegang-megang kotorannya seakan-akan anda ingin memakannya. Bila memang anda tidak suka dan tidak mau berurusan dengan mereka, tinggalkan mereka. Tidak usah merendahkan mereka dan menganggap bahwa diri anda lebih baik daripada mereka. Mungkin saja bila mereka tau bahwa mereka dikucilkan, lalu mereka akan merasa sakit hati. Apakah memang itu tujuan anda? Membuat mereka sakit hati? Tidak, kan?

Saya tidak menggurui. Hanya memberikan beberapa pandangan saya. Akan lebih bijaksana lagi kalau anda mengerti maksud tulisan saya ini dan mencoba untuk tidak menjelek-jelekkan alay. Mau pemuda Indonesia lebih damai, kan? Jadilah seseorang yang positif dalam berpikir dan berperilaku.

May God bless you.

2 Comments:

Bangquito mengatakan...

Setuju! Sangat.
Bisa menghujat bukan berarti harus.

Indah Prihandini mengatakan...

hai mayang :D wah aku baru maen lagi ke sini, interesting banget yang postingannya, setuju! ;)

#navbar { height: 0px; visibility: hidden; display: none; }