Beberapa saat yang lalu, there was a field trip, study, and research dari sekolah gue, SMA Negeri 68 tercinta. Jadi setiap tahun sekolah memang memiliki program studi ke suatu tempat. Untuk kelas ilmu pengetahuan sosial pergi ke suku pedalaman Baduy, dan untuk kelas ilmu pengetahuan alam pergi ke gunung Halimun. Gue dan teman-teman IPS pergi ke Baduy.
Kami semua terdiri atas 3 kelas IPS, kelas IPS 1, 2, dan 3. Setiap kelas dibagi-bagi atas beberapa kelompok. Kelompok gue terdiri atas gue, Iksy, Haura, Hani, Fathur, Syafaat, Galih, dan Gerry. Such a great group after all!
Perjalanan dimulai tanggal 28 Oktober, sampai 30 Oktober yang lalu. For info, Baduy itu terletak di Lebak, Banten. Jadi untuk mencapai kesana, butuh kurang lebih 4 jam perjalanan.

Kami kesana naik tronton, which is angkutan untuk mengangkut Angkatan Darat. Tronton itu seperti truk yang duduknya berhadap-hadapan. Kami sekelas ber-36 duduk di atasnya, dengan sempit-sempitan dan dengan suasanya yang panas, gerah, dan bener-bener memuakkan. Perjalanan bener-bener terasa bikin eneg, dan bener-bener pengen buat lo muntah. Sampai akhirnya kita sampai di terminal Ciboleger...
Terminal Ciboleger
Kami berangkat dari Jakarta kira-kira pukul setengah sembilan. Dan sampai di sana pukul setengah dua. Seneng banget bisa sampe di Ciboleger. Finally, udah pengen muntah di perjalanan dan akhirnya sampai juga. For info, cuaca lagi gak bersahabat banget. Langit mendung dan hujan, jadi perjalanan agak sedikit tersendat. Ciboleger itu semacam transit untuk para pengunjung. Mobil dan sarana transportasi lainnya hanya boleh melintas sampai sini aja. Di terminal ini, banyak penduduk setempat yang menawarkan dirinya untuk membawakan barang bawaan kita. Mereka biasa disebut sebagai porter atau portir. Bahkan banyak juga penduduk Baduy dalam ataupun luar yang menawarkan dirinya untuk menjadi portir.
Akhirnya kami semua pergi menuju Baduy luar. Daerah Baduy luar yang akan kami kunjungi diberi nama Gazeboh. Penduduk di Baduy luar menggunakan pakaian layaknya masyarakat Baduy. Mereka menggunakan pakaian jahit warna hitam polos, celana setengah rok sewarna dengan pakaian mereka, dan headband atau pengerat kepala atau apalah namanya yang sewarna pula dengan pakaian mereka. Tapi uniknya, mereka gak pake alas kaki apapun. Mereka nyeker kayak ayam gak pake sepatu. Sampai akhirnya kita sampai di Gazeboh.
Gazeboh
Perjalanan ke Gazeboh memakan waktu kurang lebih 1 setengah jam. Terlebih lagi cuaca yang lagi hujan membuat perjalanan jadi semakin lama dan medannya sulit banget. Naik bukit turun bukit, melewati batu dan tanah yang becek dan licin. Melintasi sungai dan melintasi kali. We're all wet and dirty. Kita gak nyangka perjalanannya sesulit ini. Tapi akhirnya kita semua sampai di Gazeboh, tempat dimana kita akan bermalam malam ini. Kita semua packing, merapihkan rumah dan menentukan kita akan tidur dimana dan bagaimana. Gue dan kelompok mendapat rumah di atas, jauh dari rumah-rumah kelompok yang lain.

The first impression, rasanya aneh banget untuk tinggal di rumah kayak gini. Bisa dibilang, bentuknya seperti rumah ayam yang diperbesar, namun lebih rapih dan bersih. Dan lebih hangat untuk ditinggali. Rumahnya terbuat dari rotan, bambu, dan kayu. Apalah itu yang pasti gak pake semen, batu, dan dinding sama sekali. Rumahnya benar-benar sederhana.
Malam harinya Gazeboh terlihat gelap gulita. Gak ada listrik sama sekali di Baduy. Ini disebabkan karena masayarakat suku Kanekes ini menolak kehadiran teknologi dan semua hal yang canggih. They refuse electricity dan mereka benar-benar gak make listrik. Bahkan malam hari aja mereka cuma pake lampu minyak untuk penerangan mereka. Tapi tetep aja semua masih kerasa gelap banget. Kita, anak Jakarta yang terbiasa dengan gemerlapnya lampu kota, agak sulit untuk menyesuaikan diri dengan keadaan Baduy yang gelap dan senyap. Malam itu, di rumah kami memasak lauk pauk untuk dimakan bersama-sama. Fathur bawa kompor portable beserta teflon, panci, dan sebagainya. Such a great night bikin makan bareng-bareng kayak gitu.
Cibeo (Baduy dalam)
Pagi harinya, kami semua mengadakan wawancara dengan ketua suku setempat, yaitu Jaro Mursyid, atau lebih dikenal dengan ayah Mursyid. Pertanyaan demi pertanyaan ditanyakan oleh anak-anak SMA 68. Berbagai macam pertanyaan kami tanyakan. Dari asal usul nama Baduy, kebudayaan, sistem ekonomi, bahkan sampai sistem perkawinan masyarakat Baduy. Ayah Mursyid dengan sangat antusias menjawab pertanyaan-pertanyaan kami. Sampai akhirnya pertanyaan dibatasi karena kita harus secepatnya pergi ke Baduy dalam.
Kami berangkat dari Gazeboh ke Cibeo pada pukul setengah sembilan. Kurang lebih jam segitu. Perjalanannya maut. Gak ada jalan setapak yang sengaja dibuat, apalagi jalan aspal kayak di Tebet. Kesemuaan jalan memang tanah dan batu-batu berlumut. Licin. Terlebih lagi kemarin sorenya habis hujan. Wih, mana berlumut, lembap, licin. Mati lah awak.
Sepanjang perjalanan kami dibimbing oleh mamang Samsang, our savior (Though my friends call him `mamang Sangsang`, I prefer to call him mamang Samsang). Dia adalah warga Baduy dalam yang entah mengapa gue merasa hatinya sangat tulus dan baik. Mamang berumur 26 tahun, as he told us, walaupun kalau kita lihat mamang memang terlihat lebih tua daripada umurnya. Kami pertama kali bertemu mamang saat wawancara bersama ayah Mursyid, tapi saat itu kami belum saling mengenal. Hingga akhirnya, saat kami mulai berjalan ke Baduy dalam kami mulai mengenal mamang. Pada awalnya canggung, memang. Tapi lama kelamaan mamang jadi semakin lucu dan kocak. Mamang bisa berbahasa Indonesia fasih. Jadi tidak menyulitkan kami untuk berkomunikasi dengan beliau. Bahkan mamang sempat membuat lawakan yang emang gak terpikirkan oleh kita, jadi kedengeran lucu banget. Dan mamang itu sangat lovable, caring, dan kita ngerasa kalau mamang adalah pengganti ayah kita di Baduy. Mamang care banget sama kita. Ngebantu kita jalan, menuntun kita supaya kita gak tersesat, nungguin kita jalan, nyamperin kita, dan gak pernah ngebiarin kita tersesat sendirian. Mungkin mamang ngerasa kalau kita adalah tanggungjawab yang harus ditanggung sama mamang, yang membuat mamang jadi sayang banget sama kita. Dan satu lagi yang bikin kita kaget, ternyata mamang adalah anak dari jaro Cibeo, salah satu jabatan penting di Cibeo.

Ayah Mursyid, pak Ailin, mamang Samsang
Kembali ke perjalanan kami.
Gila. Jalanan gila. Perjalanannya lama banget. Berasa capek banget. Mana jauh, licin, becek. Cukup ekstrem bagi kita yang emang gak biasa melewati medan kayak gini. Perjalanan butuh waktu kurang lebih empat jam. Melewati jembatan bambu yang serem, melintasi sungai, melewati hutan, jurang, manjat bukit, dan kita juga sempet melewati jalan yang tertutup longsor. Ngelewatin jalanan longsor itu kayak jalan di antara hidup dan mati. Lo bakal ngerasa kayak lo jalan di jalanan yang sewaktu-waktu lintasannya itu bisa hilang. Tanahnya gembur dan licin, dan kaki lo bakal terperosok kayak dihisap sama deadly muds. Tapi mamang terus ngebantu kita lewatin jalanan itu.

Beautiful side of Baduy
Setelah kurang lebih tiga jam melintasi perjalanan Baduy luar, sampailah kita di perbatasan Baduy dalam. Perbatasan Baduy ini dibatasi oleh kali dan jembatan bambu. Jadi, bisa dibilang kalau Baduy dalam dan Baduy luar itu beda gunung. And as people told us, hawa antara Baduy luar dan dalem itu emang beda. Di Baduy dalem itu berasa kayak `you only live with you and yourself`, mistis. Entah kenapa gue ngerasanya gitu, gak tau deh temen-temen lain ngerasanya gimana. Setelah melintasi jembatan perbatasan, kita dihadapkan dengan salah satu medan terberat di perjalanan kita ini. Tanjakkan Cinta, atau disebut tanjakkan tembayeng oleh orang-orang Baduy sana. Sebenernya this doesn't look like a tanjakkan. Malah lebih mirip sama jurang. Bener-bener gak layak untuk ditanjakkin, lebih layak untuk perosotan. Sudut ketinggiannya itu kurang lebih 80° dan untuk napak aja susah, licin. Dan tanjakkannya itu panjang banget, sampai 1 km mungkin ada. Entah berapa, yang pasti gue menggambarkannya 1 km, pengukuran gue emang gak pernah akurat, tapi anggep aja segini, karena emang jauh banget. Cobalah bayangkan, dengan sudut yang curam dan kepanjangan yang emang panjang, coba lo jalan di atasnya. Capek sekali. Dan akhirnya kita sampai di puncak tanjakkan, tapi masih harus lewat turunan lagi, lewatin sungai dan kawan-kawannya.
Hingga akhirnya sejam kemudian kita sampai di Cibeo, bagian dari Baduy dalam. Dan saat itu jam menunjukkan pukul setengah dua siang. Ternyata keadaan Baduy luar dan dalam emang beda. Di sini, you live in peace. Ngerasa banget tentram, damai, sunyi, dan kayak gak ada gangguan apapun di sini. Orang-orang yang tinggal di sini ramah banget, baik, hangat, dan sopan. Hmmm... Agak beda dengan orang Baduy luar, yang kalau diibaratkan mereka itu udah kenal duit. Orang Baduy dalam itu friendly banget. Beruntungnya kelompok gue, kita diajak ke rumah mamang Samsang. Kita diajak masuk ke rumahnya, disajikan minum, dikasih snack berupa gula aren. Yang semuanya itu berasa enak banget, alami banget, dan gak akan bisa lo temuin di bagian manapun di Jakarta. Lo minum pake gelas yang terbuat dari bambu, dan setiap air yang lo teguk, berasa kesegaran yang berbeda dibanding lo minum Coca Cola seliter. Air yang kita minum itu berasa alami, sejuk, dan masih ada aroma bambunya. Lo bakal ngerasa kayak lo mau nangis, because I felt that. Ketika kita lagi istirahat duduk-duduk di rumah mamang, tetangga si mamang ngedatengin rumah mamang dan ikutan ngobrol sama kita. Rumah mamang jadi rame, dan kami sekelompok ngerasa kayak Baduy adalah tempat yang bener-bener ngejaga lo dari kesedihan. Mereka polos banget, mereka belum ternodai sama teknologi yang brengsek. Mereka bener-bener bikin hasrat ingin menangis.
Tapi sayangnya, rombongan kita harus segera balik ke Baduy luar, which we have to leave this peaceful place. Mencegah badai dan gelapnya malam. Kita takut tersesat di hutan malem-malem. Sayang banget, padahal kita pengen banget nginep. Akhirnya kami kembali, dan kami ditemani mamang juga. Betapa baiknya mamang...
Ternyata perjalanan balik ini lebih berat. Cuaca gak bersahabat. Badai datang menghadang, dan perjalanan emang berasa berat banget. Ketakutan seakan-akan mendatangi lo. Lo akan ngerasa LO BAKAL MATI ketimpa longsor, terus jasad lo gak ditemuin bertahun-tahun. Atau lo bakal dimakan sama harimau dan digigit kalajengking. Atau lo dibawa pergi sama makhluk halus, dan yang tersisa cuma sepatu lo. Atau lo keseret arus kali yang mengalir entah kemana sampai jasad lo hilang. Atau lo kepeleset masuk jurang dan tubuh lo terpisah kayak korban mutilasi. Coba lo bayangin, di hutan yang unknown, dan di tanjakkan cinta yang kini berbalik jadi turunan cinta, lo jalan sendiri tanpa banyak orang dewasa yang membimbing lo, dan saat itu badai, dengan hawa yang gak ngenakin, dan dengan ancaman adanya makhluk lain, binatang beracun, dan longsor yang tiba-tiba bisa menimpa lo. Tapi kalau lo semangat, lo gak bakal mati. Dan untungnya gue gak mati.
Banyak teman-teman yang kesusahan berjalan, entah itu kakinya luka, sendalnya copot, sepatunya licin, kepalanya pusing, atau hanya perasaan males aja. We are all dead here. Tapi alhamdulillah kita semua selamat, walaupun ada beberapa yang terluka ringan.
Hingga akhirnya kita kembali sampai di Gazeboh pada pukul setengah enam sore. Fiuh. Rasanya lemas sekali. Alhamdulillah masih hidup. Malamnya kita istirahat, dan kita bener-bener udah teler kecapekkan. Kami istirahat supaya besoknya kami semangat kembali ke Jakarta.
Sayonara, Baduy!
Sedih rasanya untuk meninggalkan Baduy. Tapi nyatanya pagi itu kami harus segera meninggalkan Baduy. Tapi sebelum kembali, kami melakukan presentasi hasil design kaos kelas kami. Masing-masing kelas mempresentasikan hasil design kaosnya. Kelas gue, XII IPS 1 memiliki kaos warna biru, XII IPS 2 memiliki kaos warna merah, dan XII IPS 3 memiliki kaos warna putih. Alhamdulillah, design gue untuk kelas mendapat predikat design terbaik dan kelas kita memenangkan design terbaik, HEHEHE.
Akhirnya kami meninggalkan Gazeboh, dan berarti kami meninggalkan segala kenangan manis di Baduy. Sebelum naik tronton ke Jakarta, kami harus jalan terlebih dahulu ke tempat transit kami, Ciboleger. Perjalanan menggunakan kaki, dan menghabiskan waktu kurang lebih satu jam.
Dan kami sampai di Ciboleger. Lalu (harus) kembali ke Jakarta.
Inilah yang terberat dari perjalanan ini. At the first, I didn't expect that this trip would be very emotional. Perpisahan dengan mamang, dengan Baduy, dengan kenangan asik dengan kelompok gue, dan dengan kenangan lain di sini rasanya berat. Dan ternyata harus menguras air mata. Di sini kami belajar banyak hal. Mulai dari sejarah adanya Baduy, sistem perekonomian Baduy, keadaan geografis Baduy, sampai pelajaran lain yang gak bisa kita temuin di buku pelajaran sekolah.
Mulai darimana kita harus bersyukur sama kehidupan kita yang (mungkin) lebih beruntung dibanding masyarakat di sini, atau bahkan kehidupan kita yang (mungkin) lebih buruk dibanding di sini.
Bagaimana lo lebih menghargai hidup lo, dan semua yang lo punya.
Bagaimana lo kuat dan semangat ngelewatin semua rintangan hidup (baca: medan yang licin dan naik turun gunung).
Bagaimana lo ngerasa kalau hidup lo di dunia ini ternyata gak ada apa-apanya dibanding mereka di sini.
Bagaimana lo ngerasa kalau hidup lo di Jakarta itu jahat.
Bagaimana lo ngerasa disayang dan dijaga sama seseorang yang asing namun begitu tulus dan gak meminta imbalan apapun.
Bagaimana lo ngerasa kayak sebagian hidup lo ada di sini.
Bagaimana lo ngerasa kalo lo beruntung bisa dateng ke Baduy.
Segala emosi, dari rasa sedih, senang, capek, apapun itu bisa lo rasain di sini. Kedamaian. Kesunyian. Hidup tanpa kecemasan. Kekeluargaan. Keramahtamahan. Keberagaman. Apapun. Dan mungkin banyak lagi yang dirasakan sama teman-teman gue yang lain.
Dan juga kenyamanan lo hidup bersama teman-teman lo sekelompok.
Oh ya, gue ingin mengucapkan terima kasih banyak kepada Hani, Ika, Haura, Shindu, Fathur, Gerry, Galih, dan Syafaat. Atas kerjasamanya, atas kebersamaannya. Dan Fathur, terima kasih atas makanannya dan kompornya. Haura dan Syafaat, terima kasih atas salepnya.
Semoga bisa ketemu mamang Samsang lagi...
Kembali ke Baduy di lain waktu...
:)

All of the pictures grabbed from Zihana

3 Comments:
Hdp ini sdh susah, knp msti dibuat susah. Hdp ini slalu indah dgn slalu mensyukuri. Di kala kita tdk memiliki apapun hdp trasa ringan karena bersyukur & senantiasa ikhlas menjalaninya..
slm sahabat.
электронные сигареты отзыв - сигареты и кофе смотреть
Hey, I am checking this blog using the phone and this appears to be kind of odd. Thought you'd wish to know. This is a great write-up nevertheless, did not mess that up.
- David
Poskan Komentar